Seorang guru sekolah minggu sedang mengobrol dengan salah satu muridnya yang baru berusia 6 tahun.
Guru SM: "Apakah ibumu selalu berdoa untukmu setiap malam?"
Anak: "Ya"
Guru SM: "Baik sekali ibumu... Bagaimana bunyi doanya?"
Anak: "Terima kasih Tuhan akhirnya dia tidur juga...."
[Sumber diambil dan disunting seperlunya dari: Manna Sorgawi, Maret 2007]
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Pendeta dan Pilot
Seorαng pendetα dαri Mαnαdo nαik pesαwαt ke Jαkαrtα d%EFα nαnyα ke pilot :
Jeffrey : so brαpα lαmα, ngαnα jαdi pilot ?
αndre : so 34 tαong.
Jeffrey : cobα ngαnα kαse bαjαlαng mundur tu pesαwαt.
Dgn nαdα jengkel si pilot bαtαnyα : so brαpα lαmα dαng ngαna jαdi pendetα ? Jeffrey : so 20 tαong.
Andre : cobα ngαnα berdoα Bαpα Kαmi mulαi dαri Amin ...
(Kiriman :Khairul)
http://www.sahabatsurgawi.net/cgi/humor_ss2.cgi?20110815
Jeffrey : so brαpα lαmα, ngαnα jαdi pilot ?
αndre : so 34 tαong.
Jeffrey : cobα ngαnα kαse bαjαlαng mundur tu pesαwαt.
Dgn nαdα jengkel si pilot bαtαnyα : so brαpα lαmα dαng ngαna jαdi pendetα ? Jeffrey : so 20 tαong.
Andre : cobα ngαnα berdoα Bαpα Kαmi mulαi dαri Amin ...
(Kiriman :Khairul)
http://www.sahabatsurgawi.net/cgi/humor_ss2.cgi?20110815
Mencobai
Jono pengkhotbah muda. Dengan semangat Jono berkata,
"Kalau ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu!"
Perkataan itu selalu di ulang-ulang dalam khotbahnya, sehingga Budi yang mendengar khotbahnya ingin menguji perkataan Jono.
Selesai khotbah Budi langsung menampar pipi kiri Jono dan Jono memberi pipi kanannya juga untuk ditampar.
... Dua hari kemudian Jono meninju muka Budi. Sembari menahan sakit, Budi protes kepada Jono: "Kok kamu membalasnya?"
Dengan santai Jono menjawab: "Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai... dan bisa berlipat ganda"
http://sabda.org/humor
Kartu Nama
Seorang petugas Departemen Pertanian yang sok, berhenti di sebuah pertanian dan berkata kepada pemilik pertanian tersebut, "Saya akan memeriksa perkebunan Anda." Pak petani menjawab, "Sebaiknya, Anda tidak melakukan hal itu." Merasa diremehkan, sang petugas berkata dengan nada yang sombong, "Pak, saya ini petugas resmi Departemen Pertanian yang mendapat wewenang khusus dari pemerintah untuk memeriksa apa saja yang saya mau periksa. Lihat kartu nama ini! Saya berhak masuk ke perkebunan mana pun yang saya mau." Pak petani akhirnya mengizinkan sang petugas untuk memeriksa perkebunannya.
Tidak lama kemudian, terdengar jeritan sang petugas yang lari pontang-panting dikejar banteng yang ngamuk. Pak petani berteriak, "Sudah aku peringatkan sebaiknya Anda tidak masuk ke kebunku!" Sembari berlari sang petugas pun berteriak, "Tolong aku, apa yang harus aku lakukan!" Pak petani menjawab, "Tunjukkan kartumu kepadanya!"
http://sabda.org/humor
Banyak Omong
Tomi adalah orang yang tidak bisa berhenti omong. Dari sejak terbitnya matahari sampai tenggelamnya, ia tidak putus-putusnya untuk berbicara. Memang banyak orang yang tidak menyukai sifatnya yang "nonstop and over talk active" ini. Akhirnya, jatuh juga korban yang pertama, yaitu istrinya sendiri. Tomi segera membawa istrinya ke dokter. Setelah memeriksa dengan saksama, akhirnya dokter menjelaskan kepada Tomi.
Dokter: "Saya meresepkan cukup banyak obat untuk kesembuhan istri Anda. Ini adalah obat tidur."
Tomi: "Kapan saya harus berikan obat ini kepadanya, Dok?"
Dokter: "Ini bukan untuknya, Anda yang harus makan obat ini agar istri Anda dapat memunyai waktu istirahat yang cukup."
http://sabda.org/humor
Jadilah Orang Yang Fleksibel
Seorang pemuda yang akan berangkat ke ladang misi pamit kepada Pendetanya.
Pemuda: "Pak, tolong doakan, besok saya akan pergi ke ladang misi."
Pendeta: "Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak memenangkan jiwa."
Pendeta: "Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak memenangkan jiwa."
Pemuda: "Bagaimana resepnya, Pak?"
Pendeta: "Ya, kalau kamu bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur."
Pendeta: "Ya, kalau kamu bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur."
Pemuda: "Bagaimana jika bertemu dengan ketiganya, Pak?"
Pendeta: "Ya, bicaralah soal gado-gado, Nak."
Pendeta: "Ya, bicaralah soal gado-gado, Nak."
http://sabda.org/humor
Cuma Ingat Janda
Yanto adalah bujangan yang sangat taat beribadah. Tetapi sampai usianya mencapai 42 tahun, dia masih saja belum menikah. Kebanyakan waktunya dihabiskan di kantor dan urusan-urusan gereja. Sementara temannya di gereja, seorang gadis yang bernama Santi, sebenarnya sudah lama tertarik pada Yanto, tetapi Yanto sendiri tidak pernah memberikan perhatian khusus.
Suatu hari pada acara KKR di rumah salah seorang jemaat, Yanto diminta membacakan doa makan. Dengan suara pelan Yanto mulai berdoa.
"Tuhan, Bapak kami yang di Surga. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengumpulkan kami di sini. Terima kasih juga Tuhan atas makanan yang telah tersedia ini. Sebelum kami menyantap makanan ini, kami ingat juga orang-orang miskin, janda-janda yang benar-benar janda yang mungkin belum mendapatkan makanan hari ini..."
"Gua aja enggak diperhatikan, kok janda-janda yang diingat. Pantas, sampai sekarang dia masih membujang terus," ujar Santi dalam hati.
http://sabda.org/humor
Mulai Pikun
Sepasang suami-istri -- kakek Andy dan nenek Sally, merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Mereka bernostalgia dengan pergi ke sekolah di mana mereka dulu pernah memadu kasih. Dengan bergembira mereka keluar dari sekolah, dan sambil bergandengan tangan mereka berjalan pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan pulang, sebuah dompet jatuh dari sebuah sedan merah, nenek Sally segera memungutnya. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka membawa dompet itu pulang. Sesampainya di rumah mereka mendapatkan uang sebanyak 15 juta. "Kita harus kembalikan!" kata kakek Andy. "Tidak," kata nenek Sally, "Kita simpan saja."
Dan nenek Sally menyimpan dompet itu di loteng. Keesokan harinya, ada dua orang polisi mendatangi rumah mereka dan bertanya, "Apakah kemarin kakek dan nenek menemukan dompet yang terjatuh dari mobil sedan merah?"
"Tidak!" jawab nenek Sally. "Dia bohong," sahut kakek Andy, "Dia menyimpan dompet itu di loteng." "Jangan percaya dia!" bantah nenek Sally. "Dia sudah pikun."
Akhirnya, salah satu polisi berkata kepada kakek Andy, "Kek, coba katakan kepada kami bagaimana ceritanya?" Dengan semangat si kakek memulai ceritanya, "Kemarin ketika saya dan Sally baru pulang dari sekolah..." Tiba-tiba polisi yang lain segera menarik tangan temannya dan berkata, "Kita bisa ikut-ikutan pikun, ayo pulang sekarang..."
http://sabda.org/humor
Tidak Sesuai Rencana
Seorang Manajer Penjualan Air Segar yang kecewa kembali dari tugasnya di Israel.
Seorang temannya bertanya, "Mengapa kamu gagal menjual ke orang-orang di sana?"
Manajer Penjualan itu menjelaskan, "Ketika aku ditugaskan ke sana, aku sangat percaya diri akan membuat sebuah promosi penjualan yang baik. Tapi ada masalah, aku tidak bisa berbahasa Ibrani. Jadi, aku berencana untuk menyampaikan pesan lewat tiga poster."
Poster pertama: Seorang laki-laki tergolek di gurun pasir yang panas, benar-benar pucat dan kelelahan.
Poster kedua: Laki-laki itu sedang minum Air Segar.
Poster ketiga: Laki-laki itu sekarang benar-benar segar kembali.
Lalu ketiga poster itu ditempelkan di mana-mana.
"Luar biasa! Idemu pasti berhasil!" kata temannya.
"Jadinya malah parah!" kata si Manajer Penjualan.
"Jadinya malah parah!" kata si Manajer Penjualan.
"Tak ada yang memberitahuku bahwa orang-orang Israel membaca dari kanan ke kiri!" (t/dicky)
http://sabda.org/humor/
Cuma Jadi Contoh Terburuk
Seorang wanita kaya sedang menyusuri trotoar ketika ditegur oleh perempuan gelandangan yang lusuh dan kumal. Gelandangan itu minta beberapa ribu rupiah untuk makan.
Wanita itu mengambil dompetnya, mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dan bertanya, "Jika kamu kuberi uang ini, apakah kamu lebih memilih untuk membeli sekotak cokelat daripada makanan?"
"Tidak, Nyonya, aku berhenti makan cokelat sejak beberapa tahun lalu," jawab gelandangan itu.
"Apakah kamu akan menghabiskannya untuk berbelanja?" wanita itu bertanya lagi.
"Tidak, Nyonya, aku tidak mau membuang waktu untuk berbelanja," jawab gelandangan itu. "Aku memakai seluruh waktuku untuk bertahan hidup."
"Apakah kamu akan menggunakannya untuk pergi ke salon?" wanita itu bertanya sekali lagi.
"Anda sudah gila?" jawab gelandangan itu. "Aku tidak pernah merapikan rambutku selama dua puluh tahun."
Wanita itu berkata, "Oke. Aku tidak akan memberimu uang ini. Sebaliknya, aku akan mengajakmu makan malam di restoran dengan suamiku."
Gelandangan itu terkejut. "Tidakkah nanti suami Anda akan memarahi Anda? Lihat saja, aku kotor dan mungkin berbau sangat busuk."
Wanita itu berkata, "Tidak masalah. Suamiku perlu melihatmu agar dia tahu apa jadinya seorang wanita jika tidak diberi uang untuk belanja, perawatan rambut, dan membeli cokelat." (t/dicky)
http://sabda.org/humor/
Lupa Taruh Dimana
Sepasang suami istri yang telah menikah puluhan tahun belum juga dikaruniai anak. Tetapi mereka tetap berdoa kepada Tuhan memohon agar mereka dikaruniai seorang anak, walaupun mereka sudah lanjut usia. Akhirnya, apa yang mereka idamkan suatu hari terkabul, si istri hamil pada usia 65 tahun. Mereka pun tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah yang mereka terima.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, si istri melahirkan seorang bayi mungil dan lucu. Para kerabat pun berdatangan untuk mengucapkan selamat. Tetapi pada saat mereka ingin melihat bayinya, ibu tua itu menjawab, "Nanti saja ya..."
Mereka pun terheran-heran dan bertanya, "Mengapa nanti saja?"
"Ya, nanti saja kalau bayinya menangis..." jawab ibu tua itu.
"Mengapa harus menunggu bayinya menangis?" tanya mereka lagi.
Dengan wajah bingung ibu tua itu berkata, "Soalnya aku lupa bayinya kuletakkan di mana..."
http://sabda.org/humor/
Langganan:
Postingan (Atom)